Dari Sisa Sayur Hingga Botol Bekas: Belajar Mengelola Sampah Bareng Inayah Zul Putri di Masterclass RKS x SavEnvironment

rumahkelolasampah.id

rumahkelolasampah.id

  • Selasa, 18 Agu 2026 15:14 WIB

Bau yang menyengat, lalat berterbangan, dan tumpukkan sampah yang menggunung, begitulah yang orang bayangkan saat mendengar kata "kompos". Padahal, itu semua cuma mitos yang selama ini bikin orang ragu buat mulai, itulah yang dikatakan Inayah Putri pada saat kegiatan Masterclass berlangsung pada Sabtu (01/08). 

 

Dalam kegiatan Masterclass yang berjudul "From Concept to Action: Masterclass in Composting and Upcycling", Rumah Kelola Sampah (RKS) kembali hadir untuk memperluas jangkauannya lewat kolaborasi yang dijalankan bersama SavEnvironment. Kali ini, Nurul Inayah Zul Putri yang akrab disapa Naya,  juga selaku pengurus Rumah Kelola Sampah ditunjuk sebagai pemateri pada kegiatan ini. Ia mengajak para peserta untuk melihat composting & upcycling bukan sebagai beban, melainkan sebuah aksi kecil yang dapat dimulai oleh siapa saja dan dimana aja. Naya juga menilai bahwa perubahan kecil seperti ini tidak bisa diciptakan dari orang lain, melainkan harus dimulai dari diri sendiri. 

 

Naya membuka sesi kelas dengan membawa data bahwa timbunan sampah di Indonesia saat ini telah memcapai 31 juta ton, namun dari semua sampah tersebut hanya sedikit yang mampu dikelola dengan baik. Ia juga mengingatkan bahwa dampak dari tumpukkan sampah ini, sering luput dari perhatian. Tanpa disadari partikel mikroplastik sudah masuk dan mengancam kelangsungan hidup manusia, misalnya pada kasus partikel mikroplastik yang ditemukan pada plasenta manusia. Bagi Naya, masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya fasilitas yang ada melainkan dari kebiaasaan manusia juga. "Cegah sebelum ada, pilah saat ada, dan olah jadi berguna", tegasnya, kalimat yang kemudian menjadi benang merah untuk seluruh materi yang didiskusikan. Salah satunya terlihat pada bagaimana Naya membahas composting: kegiatan ini tidak banyak dilakukan oleh orang-orang karna mengira prosesnya pasti bau dan membutuhkan lahan yang luas.

 

 

Sementara itu, pada kegiatan ini Rumah Kelola Sampah melalui Naya memberikan solusi dan alternatif lain bagi orang-orang yang mau mulai melakukan composting dengan prinsip tidak menggunakan banyak lahan dan tentunya tidak menimbulkan bau yang menyengat. Kuncinya ada pada empat unsur penting: nitrogen (sisa sayur, kulit buah, ampas kopi), karbon (daun kering, kardus bekas), air (air cucian beras atau larutan EM4) serta oksigen. Sementara itu untuk sisa-sisa dari daging, ikan, susu, dan juga minyak seharusnya dihindarkan agar tidak mengundang hama. Naya juga menjelaskan berbai jenis wadah yang dapat digunakan untuk composting, mulai dari ember bekas, drum plastik, hingga keranjang Takakura. 

 

Kalau composting menjawab persoalan sisa makanan, maka upcycling jadi jawaban yang paling tepat untuk persoalan sampah plastik dan barang bekas yang tertumpuk. Kedua hal ini sengaja dipilih oleh RKS dan SavEnvironment agar peserta pulang dengan solusi yang lengkap tidak hanya salah satu saja. Berbeda dengan daur ulang biasa, upcycling lebih fokus pada mengubah barang bekas menjadi barang yang bernilai dari bentuk aslinya. Naya mencontohkan beberapa proyek sederhana yang dapat dilaukan dirumah: tutup botol bekas disulap menjadi liontin kalung, kain flanel jadi bros bunga, hingga kardus yang bisa disulap menjadi bingkai foto berlapis kain. 

 

Menutup sesi, Naya membagikan satu kutipan bagus yang ia dapat dari Robert Swan, "Ancaman terbesar bagi planet kita adalah keyakinan bahwa orang lain yang akan menyelamatkannya". Bagi RKS sendiri, kolaborasi dengan SavEnvironment menjadi bukti bahwa memperluas jangkauan tidak selalu tentang followers yang bertambah, tetapi juga tentang membangun ruang belajar bersama komunitas lain yang memiliki visi serupa. Ke depannya, RKS berharap ruang kolaborasi akan semakin banyak sehingga semaki banyak orang terutama anak muda yang tergerak untuk mulai memilah dan mengolah sampah di lingkungannya sendiri. 

  • Tags :
  • RUMAH KELOLA SAMPAH